Gue tinggal di kota kecil yang kalau mau cari hiburan agak susah. Pilihan biasanya cuma mall kecil, warung kopi, atau rebahan. Suatu hari, teman gue ngajak naik gunung yang jaraknya cuma 40 menit dari rumah. Gunungnya nggak terkenal, ketinggiannya sekitar 1.200 meter, dan katanya cuma butuh dua jam sampai puncak. Gue pikir, ah gampang. Ternyata pikiran itu yang bikin gue hampir nyerah di tanjakan pertama.
Artikel ini bukan cerita soal mendaki gunung tinggi yang bikin bangga. Ini cerita soal apa yang berubah setelah gue coba rutin naik jalur ringan itu selama sebulan. Karena jujur, dampaknya ke badan dan kepala gue jauh lebih besar dari yang gue bayangkan.
Minggu pertama: badan protes, kepala juga
Pendakian pertama gue berantakan. Sepatu yang gue pakai cuma sepatu lari biasa, tas ransel gue isi air satu botol dan roti dua biji, dan gue nggak bawa jaket. Pagi masih dingin, siang panas, dan gue kedinginan di tengah jalan karena angin. Kaki gue pegal tiga hari setelahnya. Lutut sempat nyeri karena gue turun terlalu cepat.
Tapi yang paling berkesan bukan pegalnya. Justru pagi-pagi berikutnya, gue bangun lebih segar. Padahal tidur gue cuma lima jam. Gue nggak tahu itu efek udara dingin, efek capek, atau efek lihat pemandangan dari atas. Yang jelas, badan gue kayak di-reset.
Baca juga: Dompet Tipis Bikin Ragu? Intip Cara Warga Kampung Jalan-Jalan Murah
Minggu pertama gue naik dua kali. Nggak sampai puncak di percobaan kedua, karena gue kehabisan napas dan memutuskan berhenti di pos tengah. Nggak apa-apa. Yang penting jalan.
Perubahan yang paling kerasa setelah sebulan
Setelah empat minggu dan total delapan kali naik-turun, ada beberapa hal yang berubah dan ini bukan sekadar perasaan gue doang.
1. Napas jadi lebih panjang
Awalnya gue ngos-ngosan cuma di tanjakan 100 meter. Sekarang gue bisa naik tanjakan yang sama sambil ngobrol. Ini bukan karena gue jadi atlet, tapi karena badan gue mulai terbiasa. Jantung nggak lagi kayak mau copot setiap kali jalan menanjak.
Efek sampingnya ke kehidupan sehari-hari juga kerasa. Naik tangga di kantor yang biasanya bikin gue mampir istirahat di lantai dua, sekarang santai aja. Nggak dramatis, tapi buat gue ini perubahan nyata.
2. Tidur lebih enak
Ini yang paling nggak gue duga. Gue dulu tipe orang yang susah tidur, sering scroll HP sampai jam dua pagi. Setelah rutin naik gunung, badan capeknya beda. Capek karena bergerak itu bikin tidur lebih pulas, bukan capek karena stres yang bikin mata melek terus.
Gue nggak bilang naik gunung itu obat insomnia. Tapi buat gue, badan yang capek sehat itu bikin tidur lebih gampang.
3. Kepala lebih adem
Ini yang paling susah dijelasin. Di atas gunung, sinyal HP sering hilang. Awalnya gue panik, takut ada kerjaan masuk. Tapi lama-lama, satu-dua jam tanpa notifikasi itu jadi terapi. Gue duduk di batu, dengerin angin, dan tiba-tiba masalah yang tadi pagi bikin pusing jadi kelihatan kecil.
Bukan gunungnya yang bikin tenang. Tapi jarak dari HP dan rutinitas yang bikin kepala kita bisa mikir jernih lagi.
Yang harus disiapkan, versi warga kampung
Gue nggak beli alat mahal. Ini daftar yang akhirnya gue pakai dan menurut gue cukup buat jalur ringan:
- Sepatu trekking murah atau sepatu olahraga dengan sol tebal. Yang penting nyaman dan nggak licin.
- Jaket tipis yang bisa dilipat. Gunung rendah tetap dingin di pagi hari.
- Air minimal 1,5 liter dan camilan yang nggak berat, kayak pisang atau roti gandum.
- Topi dan sunblock. Sinar matahari di ketinggian lebih nyengat dari yang kita kira.
- Senter kecil kalau sampai turun kelewat sore. Ini sering dilupakan pemula.
Total budget gue buat semua ini di bawah 300 ribu, karena sebagian barang udah punya. Kalau kamu di kampung dan akses toko outdoor jauh, sepatu olahraga biasa pun nggak masalah, asal hati-hati di jalur licin.
Kenapa ini cocok buat warga kota kecil dan desa
Justru karena kita tinggal di daerah, gunung dan bukit kecil itu biasanya dekat. Nggak perlu tiket pesawat, nggak perlu hotel. Bensin motor pulang-pergi mungkin cuma 20 ribu. Biaya masuk jalur kadang gratis atau cuma bayar parkir.
Dan yang paling penting, kita nggak perlu ikut tren. Nggak perlu foto estetik buat feed. Cukup naik, turun, pulang, mandi, makan. Selesai.
Gue sadar, nggak semua orang punya gunung dekat rumah. Tapi coba cek dulu. Bukit, jalur hutan desa, atau bahkan tangga panjang di bukit dekat kampung bisa jadi pengganti. Intinya sama: gerak, capek, dan jauh dari layar sebentar.
Setelah sebulan, gue nggak jadi pendaki keren. Gue masih pemula yang kadang salah bawa barang. Tapi badan gue lebih kuat, tidur gue lebih enak, dan kepala gue lebih tenang. Buat gue, itu cukup jadi alasan buat naik lagi minggu depan.
Kalau kamu penasaran, coba mulai dari jalur paling gampang yang ada di dekat rumah. Nggak usah nunggu teman, nggak usah nunggu alat lengkap. Naik pelan-pelan aja, nikmatin, dan lihat sendiri apa yang berubah setelah sebulan.