Gue tahu rasanya jadi orang kampung yang pengin liburan tapi mikir dua kali lihat harga tiket. Tapi percaya deh, Dieng itu salah satu tempat yang masih ramah buat kantong kita. Udara dinginnya, telaga-telaganya, dan matahari terbitnya itu lho—bikin lupa kalau besok harus balik ke sawah atau ke warung.
Nah, di artikel ini gue mau bagi rencana sederhana seminggu di Dieng. Bukan itinerary mewah ala travel influencer yang nginep di hotel bintang empat. Ini rencana yang bisa kamu jalanin bareng keluarga atau temen sekampung, pakai angkutan umum, nginep di homestay murah, dan makan di warung lokal.
Baca juga: Solo Trip ke Sumba: Surga Tersembunyi yang Bikin Nagih
Hari Pertama sampai Kedua: Perjalanan dan Adaptasi
Kalau kamu dari kota kecil di Jawa Tengah atau Jawa Timur, naik bus ekonomi ke Wonosobo itu pilihan paling masuk akal. Dari terminal Wonosobo, ada angkutan kecil menuju Dieng yang harganya masih ramah. Saran gue, berangkat pagi biar sampai sore dan nggak kecapekan.
Hari pertama jangan langsung gas jalan-jalan. Tubuh perlu adaptasi sama udara dingin yang bisa tembus jaket tipis. Cukup keliling sekitar penginapan, cari warung makan, dan istirahat. Malamnya, coba deh keluar sebentar lihat langit. Bintang di Dieng itu beda banget sama di kampung kita—lebih banyak, lebih terang.
Hari kedua baru mulai pelan-pelan. Kunjungi Kompleks Candi Arjuna yang letaknya nggak jauh dari pusat desa. Tiketnya murah, dan kamu bisa habiskan dua jam di situ. Jangan lupa bawa air minum dan camilan dari warung, karena harga di dalam area wisata lumayan naik.
Hari Ketiga sampai Keempat: Telaga dan Kawah
Ini bagian yang paling gue suka. Dieng punya beberapa telaga yang bisa kamu datangi dengan berjalan kaki atau naik ojek murah. Telaga Warna dan Telaga Pengilon letaknya bersebelahan, jadi sekali datang bisa dua tempat sekaligus.
Tips dari gue: datang pagi sekitar jam tujuh. Selain lebih sepi, air telaganya masih tenang dan warnanya lebih keliatan. Sore hari biasanya ramai dan kabut turun cepat.
Jangan Lupa Kawah Sikidang
Kawah Sikidang itu unik karena kamu bisa lihat langsung lumpur panas mendidih dari jarak dekat. Baunya memang agak menyengat, tapi pengalamannya seru. Bawa masker kalau kamu sensitif sama bau belerang. Dan hati-hati, jangan keluar dari jalur yang sudah disediakan.
Hari keempat bisa kamu pakai buat istirahat ringan sambil jalan-jalan ke pasar desa. Beli kentang, carica, atau purwaceng buat oleh-oleh. Harga di pasar jauh lebih murah dibanding toko oleh-oleh di pinggir jalan utama.
Hari Kelima sampai Keenam: Sunrise dan Desa Wisata
Nah, ini yang paling ditunggu. Sunrise di Sikunir itu legendaris, tapi jujur aja, buat warga kampung yang nggak biasa mendaki, perjalanannya lumayan menguras tenaga. Mulai jalan sekitar jam tiga pagi, bawa senter dan jaket tebal. Kalau nggak kuat naik sampai puncak, berhenti di titik pandang tengah juga sudah cukup indah.
Gue pernah naik Sikunir tanpa sarung tangan. Tangan sampai kaku dan nggak bisa pegang kamera. Jadi please, bawa sarung tangan, meskipun kamu merasa orangnya tahan dingin.
Hari keenam, coba deh masuk ke desa-desa sekitar. Banyak warga yang buka homestay sederhana dan kebun sayur yang bisa dikunjungi. Ngobrol sama warga lokal itu pengalaman yang sering dilupakan orang. Padahal dari situ kita bisa tahu banyak hal—cara mereka menanam kentang, cerita soal kabut, sampai mitos-mitos setempat.
Hari Ketujuh: Belanja Oleh-oleh dan Pulang
Hari terakhir jangan dipakai buat wisata berat. Cukup belanja oleh-oleh, kemas barang, dan siap-siap pulang. Kalau bus kamu berangkat siang, sempatkan sarapan di warung dekat terminal Wonosobo. Mie godog di sana porsinya besar dan harganya bikin senyum.
Total pengeluaran seminggu? Tergantung gaya kamu, tapi dengan nginep di homestay murah, makan di warung, dan pakai angkutan umum, satu orang bisa habis di bawah satu juta. Itu sudah termasuk tiket masuk wisata dan oleh-oleh secukupnya.
Yang paling penting sebenarnya bukan hematnya. Tapi rasa lega setelah seminggu nggak mikirin kerjaan atau urusan rumah. Dieng ngajarin kita kalau liburan itu nggak harus jauh atau mahal. Kadang yang kita butuh cuma udara dingin, langit yang luas, dan waktu buat diri sendiri.
Jadi, kapan kamu berangkat?